March 24, 2010

19 Maret 2010

Khutbah Jum’at oleh K.H. Adam Anhari.

Ada sebuah kisah yangterjadi pada kekhalifahan Umar bin Khattab.. Ada seorang laki-laki yang berkendara unta hendak umrah menuju Makkah.. dalam perjalanan yang jauh itu , lelaki itu merasa lelah dan beristirahat. Karena begitu lelahnya, hingga untanya pun lepas dari pantauannya.. Unta nya pun karena perjalanan jauh, unta tersebut kelaparan. Unta tersebut mencari-cari makanan hingga menemui sebuah kebun yang di miliki oleh lelaki tua. Unta tersebut pun memakan dengan lahap apa yang ada di kebut lelaki tua tersebut. Karena mengetahui hasil dari kebunnya di makan oleh unta yang lepas, lelaki tua itu pun mengusir unta tersebut, namun karena sangat lapar, unta tersebut susah untuk diusir. Akhirnya lelaki tua tersebut memukul unta tersebut. Atas izin ALLAH, unta tersebut mati karena pukulan dari lelaki tua itu.

Lelaki pengembara pun bangun dan mencari unta miliknya. Setelah mencari, akhirnya lelaki pengembara tersebut menemukan unta miliknya telah tidak bernyawa. Dan lelaki pengembara tersebut mengetahui bahwa lelkai tua pemilik kebun lah yang membunuh unta miliknya. Karena mengetahui unta miliknya mati, maka lelaki pengembara tersebut memukul lelaki tua tersebut dan atas izin ALLAH lelaki tua tersebut mati akibta pukulan lelaki pengemabara tadi. Sesaat setelah pemukulan tersebut, 2 anak dari lelaki tua tadi datang dan menangkap lelaki pengembara tadi. Lelaki pengembara tersebut dibawa oleh 2 anak tersebut ke hadapan pengadilan. Dan pengadilan memutuskan hukuman qishosh terhadap lelaki pengembara tersebut.
Lelaki pengebara pun memohon sebuah permintaan kepada hakim agar ia diberi izin untuk pulang dan megurus segala urusannya sebelum ia dihukum mati. Khalifah Umar pun bertanya kepada lelaki pengembara itu, “Apa yang dapat menjaminmu hingga kami bisa mengizinkanmu pergi untuk pulang?”. Lelaki pengembara itu pun bingung, namun disela kebingungannya pun terdengar suara Abu Dzar Al Ghifari “Aku jaminannya”. “Wahai Abu Dzar, sadarkah kau apa yang kau lakukan?” Tanya Umar. “Ya aku sadar”. Lelaki pengembara pun di izinkan untuk pulang terlebih dahulu.
Hingga datanglah hari pengeksekusian. Segala kebutuhan telah disiapkan, yang menyaksikan pun telah berkumpul. Hingga waktu dzuhur berlalu, lelaki pengembara itupun tak kunjung hadir. Dan saat waktu ashar pun tiba, lelaki pengembara itupun belum juga hadir. Hingga akhirnya diputuskan penjaminlah yang harus menerima hukuman. Saat pedang ingin di ayunkan ke leher Abu Dzar, berteriaklah seorang laki-laki “Tunggu, lihatlah di sana, ada orang yang menuju kemari, mungkin iti adalah lelaki yang kita tunggu”. Ternyata benar. Lelaki itu hadir ditengah-tengah acara eksekusi yang nyaris saja Abu Dzar yang menjadi jaminan yang menerima hukuman.
Setibanya lelaki pengembara tersebut, Umar langsung bertanya kepada lelaki tersebut. “Wahai pemuda, mengapa engaku terlambat?”. Lelaki itu pun menjawab “Orang tuaku telah wafat, dan sebagai anak, aku harus mengurus penguburannya hingga selesai”. Umar pun kembali bertanya, “ mengapa engkau datena kemari? Padahal bisa saja kau tak datang dank au akan tetap hidup”. Lelaki itu pun menjawab, “ Sebagai Muslim, aku tak ingin dikatakan tidak bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat”. Lalu Umar pun bertanya kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, mengapa kau mau menjadi penjamin?”. Abu Dzar pun menjawab, “Sebagai seorang muslim, aku ingin masih ada Muslim yang mau membantu saudaranya”. Kemudian, bersiaplah lelaki pengembara itu untuk dihukum. Setelah siap, anak dari lelaki tua itu berteriak agar hukuman dihentikan. Kedua anak tersebut memohon agar hukuman dibatalkan. Keduanya memaafkan perbuatan lelaki pengembara tadi. Lalu Umar pun bertanya, “mengapa kau menginginkan hukuman ini dibatalkan?” kedua anak lelaki tua itu pun menjawab, “Aku sebagai muslim, ingin masih ada seorang muslim yang mau memaafkan saudaranya”.

Dari kisah di atas, ada tiga pelajaran yang semestinya menjadi sosok kepribadian muslim. Yakni sebagai muslim sejati, sudah semestinya memiliki rasa tanggung jawab, saling membantu dan memaafkan. Beginilah Akhlaq Islam yang diajarkan Rasulullah kepada ummatnya.

5 komentar:

ridwan said...

ketika rasa cinta dilandasai keimanan, terciptalah ukhuwah yang demikian luar biasa

tuwowo said...

nice post,,,
akhirnya ni blog di update juga yak :)
kepribadian muslim yang wajib ditiru kang,,,

wahied said...

:D
masih belajar mba :D

hilalnuha said...

selamat blogging, punyaku masukin juga ke blogroll ya...

wahied said...

@hilal : siap bro.. :)

Post a Comment